

Sosbud
Sabiruddin
Jadikan Teman | Kirim Pesan
Anak bungsu dari dua bersaudara yang melewati masa kecil sekolahnya secara nomaden. Dari kota ke desa,-desa ke kota, secara berulang-ulang. Sejak 2003, untuk kali pertama menginjakkan kaki di pulau Jawa. Tak terasa, selama tujuh tahun menimba ilmu di daratan Jawa telah dilakoni. Dan saat ini memperpanjang pencarian ilmu dengan menjadi mahasiswa paca sarjana, kajian budaya dan media, UGM. Meskipun ada teman yang baru dikenal dan bertanya "Ikut SNMPTN tahun ini ya mas"?
Review buku Teori Budaya
REP | 10 October 2010 | 04:01
Dibaca:
1623
Komentar: 1
0
Pengantar
Buku Teori Budaya karangan David Kaplan dan Robbert A. Manner merupakan
terjemahan dari judul asli The Theory of Culture oleh Landung Simatupang
ke dalam bahasa Indonesia. Buku setebal 294 halaman tersebut, terdiri
dari lima pembahasan penting yang di dalalamnya memuat sub-sub
David Kaplan dan Robbert A. Manner sangat menekankan pentingnya teori.
Karna teori merupkan pengetahuan yang diorganisasikan dengan cara
tertentu yang meletakkan fakta di bawah kaidah umum. Berikut review buku
tersebut.
SATU
ANTROPOLOGI: METODE DAN POKOK SOAL
DALAM PENYUSUNAN TEORI
Antropolgi merupakan satu-satunya ilmu
yang berusaha menekankan dan membahas kedua sisi sifat-hakikat manusia
sekaligus, yakni sisi biologis (antropologi ragawi) dan sisi kultural
(antropologi budaya). Selain itu, antropologi juga mencakup persoalan
kekerabatan dan organisasi sosial, politik, teknologi, ekologi, agama,
bahasa, kesenian dan mitologi. Masalah utama dalam antropologi adalah
menjelaskan kesamaan dan perbedaan budaya, pemeliharaan budaya maupun
perubahannya dari masa ke masa. Budaya itu bersifat dinamis. Karenanya
sebuah keharusan mempelajari mekanisme, struktur, dan sarana-sarana
kolektif di luar diri manusia, yang kemudian disebut sebagai “budaya”
(culture).
Tekait keragaman pengaturan budaya, antropolog menilai bahwa ada
perbedaan, pertama bahwa sesuatu yang ada begitu saja sebagai fenomen
untuk dicatat, atau sebagai variasi-variasi dalam suatu tema besar yang
bernama relativisme budaya, kedua keragaman tidak dipandang sebagai
fenomen untuk sekedar dicatat, melainkan dipersoalkan juga alasan
penjelasannya, yang berarti antropolog menuntut adanya teori.
Relativitas Lawan Perbandingan
Dalam studi antropologi kita mengenal istilah relativistik yang sering
disebut tesis relativitas dan komparatif, hal tersebut berkaitan dengan
teori dan metodologi, dan terkesan bertolak belakang. Relativisme
menyatakan bahwa setiap budaya merupakan konfigurasi unik yang memiliki
citarasa khas dan gaya serta kemampuan tersendiri. Kaum relativis
menyatakan, bahwa suatu budaya harus diamati sebagai suatu kebulatan
tunggal, dan hanya sebagai dirinya sendiri. Sedangkan komparativis
menyatakan bahwa suatu institusi, proses, kompleks, atau ihwal, haruslah
dicopot dari matriks budaya yang lebih besar dengan cara tertentu
sehingga dapat dibandingkan dengan insitusi, proses, kompleks, atau
ihwal-ihwal dalam konteks sosiokultural berbeda.
Perbandingan dan Tipe Struktural
Tipe struktural merupakan fenomen yang dipelajari menurut cirinya
yang penting dan menentukan dari bangunan konstruk. Kemudian karna tidak
adanya klasifikasi yang mutlak maka tipe struktural bervariasi menurut
masalah yang dikaji. Perbandingan yang dilakukan oleh antropolog yang
lebih sadar diri dan sistematis dapat dilakukan dengan dua jenis kajian.
Pertama adalah perbandingan skala kecil dalam suatu wilayah geografis,
kedua budaya yang tidak memiliki hubungan histories, berupa survei
lintas-budaya berskala besar.
Masalah Pendefinisian Teori
Teori yang baik adalah menunaikan fungsi ganda, berupa penjelasan fakta
yang sudah diketahui dan membuka celah untuk mengantarkan ke fakta baru.
Dengan demikian, teori berusaha menjelaskan fenomena empirik dan
menguarai pertanyaan “Bagaimana” dalam kenyaataan.
Hubungan antara Teori Etnografi dan Fakta Etnografi
Gagasan fakta empirik dan teoritek dan perbedaan keduanya berupa
pembedaan antara etnografi (pemerian/deskiripsi budaya) dan etnologi
(pembentukan teori mengenai pemerian itu).
Masalah-masalah Khusus dalam Pembentukan Teori Antrologi
Persoalan yang sering timbul bagi antropolog adalah soal metodologis.
Sementara, dalam menyusun deskripsi mengenai budaya yaitu menurut
kategori konseptual warga budaya yang bersangkutan sering disebut
pendekatan emik, atau sebaliknya berupa pendekatan etik.
Obyektifitas Pelaporan Antropologis dan Pembentukan Teori
Masalah pelaporan dalam setiap pengetahuan yang diharapkan secara
obyektif atau setidaknya mendekati kebenaran, dimana seorang antropolog
mengalami bias. “Kebenaran” tersebut dapat dicapai melalui obyektifitas
hakiki sesuatu displin diupayakan dan ditingkatkan sacara kumulatif dari
masa ke masa sebagai tradisi kritik suatu disiplin.
Ilmu pengetahuan (sains) merupakan hasil jawaban dari rentetan
pertanyaan dan pembuktian. Antropologi ingin memahami pola-pola umum dan
regulalaritas fenomena kebudayaan. Verstehen. Ilmu-ilmu sosial bersifat
ideografis (partikularistik) dan tidak bersifat nomotetis
(menggeneralisasi). Verstehen cenderung pada pengorganisasian dan
presentasi data dengan cara tertentu yang menjadikan data itu dapat
dipahami melalui suatu proses pemahaman dan empati individual.
Historitas. Terdiri dari (a), adanya perubahan struktur, proses, dan
kejadian. (b), sistem terbuka, (c), isu-isu sosial dan (ideologi).
DUA
ORIENTASI TEORETIK
Pendekatan atau orientasi teoretik
berbeda dengan dengan metodologi yang bersifat formal. Teori yang
dimaksuda lebih bermakna substantive dan berurusan dengan entitas,
impikasi dan hubungan di antara entitas-entitas itu. Pada Pendekatan
atau orientasi teoretik di bagi menjadi empat; evolusinisme,
fungsionalisme, sejarah dan ekologi budaya.
Sedangkan tujuan primer antropogi adalah menjawab bagaimana sistem
budaya bekerja dan bagaimana sistem budaya dapat bekerja seperti
keadaanya sekarang?
Kerangka Historis Umum
Selama abad kesembilan belas terjadi dominasi oleh orientasi evolusioner
dan orienasi perkembangan. Kemudian memunculkan reaksi pada abad ke dua
puluh.
Evolusionisme Abad Kesembilan Belas: Suatu Perspektif Historis
Evalusionisme abad kesembilan belas menuai kritik tajam karna dianggap
sangat etnosentris meskipun bergulat pada suatu telaah naturalistik
mengenai sebuah fenomena kultural. Setelah sekitar 40 tahun paham
evolusi budaya tenggelam maka lahirlah antropolog sebagai penerus
tradisi evolusioner dengan corak yang berbeda. Seperti V. Gordon Childe
(antropolog Inggris) dan Leslie A. White dan Julian Steward (antropolog
Amerika)
Sementara itu, tugas yang layak seorang antropologi ilmiah adalah
mencapai konsepsi tentang evolusi atau perkembangan yang memberi
kerangka yang bermanfaat dalam memikirkan, meneliti dan menjelaskan
perubahan budaya sebagai bentuk sumabangan baru.
Fungsionalisme
fungsionalisme memiliki kaidah yang bersifat mendasar bagi suatu
antropologi yang berorientasi pada teori, yakni diktum metodologis bahwa
kita harus mengeksplorasi ciri sistemik budaya. Dan menekankan dominasi
dalam studi antropologi khususnya penelitian etnografis.
Perubahan Budaya
Upaya menjelaskan perubahan struktural, orang harus mempertimbangkan
bobot kausal variabel-variabel tertentu. Artinya, haruslah ditentukan
unsur, institusi, atau struktur mana yang lebih mendasar, lebih
fungsional daripada yang lain-lain. Keluhan yang lazim dilontarkan
mengenai analisis fungsional adalah karena analisis ini mempersoalkan
pemeliharaan-diri sistem, ia tidak dapat menjelaskan perubahan
struktural
Prasyarat Fungsional
Syarat analisis fungsional yang memadai berupa. (1)konsepsi tentang
sistem; (2) daftar syarat untuk sistem itu; (3) definisi berbagai sifat
dalam keadaan terpelihara; (4) pernyataan tentang kondisi eksternal yang
diabayangkan memiliki pengaruh dan dengan demikian dapat dikontrol dan
(5) pengetahuan tertentu tentang mekanisme internal dalam pemeliharaan
sifat sistem itu.
Sejarah
Penggunaan istilah sejarah pada konteks ini adalah menunjukkan perbedaan
metode yang digunakan dalam menangkap kembali masa lampau. Meskipun
kajian lapangan antropolog adalah semacam sejarah dan harus dibaca pila
sebagai sejarah.
Ekologi Budaya
Ciri dalam ekologi budaya adalah perhatian mengenai adaptasi pada dua
tataran: pertama, sehubungan dengan cara sistem budaya beradaptasi
terhadap lingkungan totalnya, dan kedua-sebagai konsekuensi adaptasi
sistemik itu-perhatian terhadap cara institusi-institusi dalam sesuatu
budaya beradaptasi atau saling menyesuaikan diri. Dengan demikian,
berbeda dengan ekologi umum, ekologi budaya tidak sekedar membicarakan
interaksi bentuk-bentuk kehidupan dalam suatu ekosistem tertentu,
melainkan membahas cara manusia memanipulasi dan membentuk ekologi
sistem itu sendiri. Pembahasan ekologi budaya secara prinsip berkorelasi
dengan Konsep Lingkungan (environment) dan adaptasi (adaptation).
TIGA
TIPE-TIPE TEORI BUDAYA
Teori dirumuskan untuk menjawab
pertanyaan menagapa (why) timbul regulasi alam, dengan demikian seorang
antropolog dapat memberikan penjelasan dan merumuskan teori.
Teknoekonomi
Teknoekonomi merupakan keadaan kultural dan historis tertentu,
seperangkat faktor (misalnya: alat-alat) mungkin lebih menentukan
daripada faktor-faktor lainnya. demi perbaikan sosial, sebagai produk
sejarah dan pengaturan sosioekonomis beserta ideologi yang
mengiringinya.
Struktur Sosial
Levi-Strauss berpendapat bahwa struktur sosial adalah model. Leach
mengatakannya sebagai seperangkat norma atau aturan ideal.
Evans-Pritchard mengemukakan bahwa struktur sosial merupakan konfigurasi
kelompok-kelompok yang mantap. Sedangkan Talcott Parsons mengatakan
bahwa struktur sosial merupakan suatu sistem harapan/ekspektasi normatif
(normative expectations).
Matra Politik
Institusi politik dapat pula dipandang sebagai variabel struktural yang
memiliki dampak penentu atau kausal. Ketika seperangkat jabatan politik
sepenuhnya menjadi terpisah dengan sistem kekerabatan, dan masyarakat
itu ditata terutama bukan atas dasar kaidah kekerabatan melainkan
territorial maka muncul state, “Negara”.
Ideologi
Ideologi mengacu kepada kawasan ideasional dalam suatu budaya, yang
meliputi nilai, norma, falsafah, dan kepercayaan religius, sentimen,
kaidah etis, pengetahuan atau wawasan tentang dunia, etos, dan
semacamnya. Antroplog dalam menjelaskan rasionalitas hal yang irrasional
sering terbawa pada subsistem ideologi Logika Hal Irrasional.
Kepribadian: Matra Sosial dan Psikobiologis
Budaya dan kepribadian (subsistem kepribadian) mengacu pada beberapa hal
pembahasan pokok soal teoritik dan metodologis yang niscaya melibatkan
dalam segala upaya untuk memanfaatkan variabel-variabel kepribadian guna
menjelaskan fenomena kultural.
Aliran Budaya-Kepribadian yang Lama dan Baru
Masa awal, antropologi telah memasalahkan proses mental sebagai
bidang pengetahuan yang sistematis. Dengan demikianlah maka dalam
memegang teguh anggapan tersebut antropologi meninggalkan penjelasan
rasial, biologis, dan genetis mengenai perubahan budaya. Antropologi
beralih ke penjelasan tentang perbedaan itu sebagai fenomena
sosio-kultural. Perkembangan selanjutnya, kepribadian baru, yang melekat
pada Kognisi yang menaruh perhatian yang luas terhadap antropoli
psikologis untuk menelaah pikiran itu sendiri. Tujuan utama antropologi
kognitif ialah mengetahui alat konseptual yang digunakan suatu bangsa
untuk mengklasifikasikan, menata, dan menafsir semesta sosial serta
alaminya.
Bahasa dan Kode Kognitif
Kognisi dalam karya antropologi menuai kritik seperti, salah satunya
adalah Harris yang menentang karya kognitis yang memandang
ambiguitas (ketaksaan) kurang berarti dan tak relevan. Kognisi dipandang
bahwa telaah tentang julukan dan klasifikasi kebahasaan terkandung
dalam ranah-ranah budaya seperti penyakit, warna, kerabat, tumbuhan, dan
sebagainya, akan langsung mengantar kita pada kategori kognitif yang
digunakan oleh para warga suatu masyarakat menata ranah-ranah itu dan
bahkan dalam memikirkannya. Antropolog memandang bahwa ada relasi
strukutur bahasa dengan dengan struktur pikiran kognitif. Di sisi lain,
berpandangan bahwa hakekat bahasa adalah Instrumen Sosial
.
EMPAT
ANALISIS FORMAL
Bagian ini membahas dua skemata teori
yaitu Strukturalisme dan etnografi-baru antara lain mencakup ancangan
yang disebut etnosemantik, etnosains, dan analisis-komponen. Yang
membuat strukturalisme dan etnografi-baru kelihatan menonjol sebagai
perintis adalah bahwa metodologi, peristilahan, dan kerangka konseptual
yang digunakannya banyak bersumber tidak hanya pada lingkungan
struktural, namun juga pada perkembangan paling mutakhir dari ilmu-ilmu
yang disebut high sciences: teknologi komputer, teori komunikasi,
sibernetika, game theory, analisis sistem, dan logika simbolik.
Model utama yang paling berpengaruh adalah bahasa.pendefinisian model
secara formal. Model ialah sebagai analogi dan metafora. Suatu model
formal adalah seperangkat unsur yang didefinisikan secara cermat-tepat,
ditambah dengan aturan logis untuk menggabung-gabungkannya secara
terampil. Sifat paling bermanfaat pada suatu model adalah kemungkinan
heuristik-nya bukan presisinya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam menggunakan model, yaitu aproksimasi (penghampiran) dan isomorfis
(sama bentuk).
Strukturalisme
Leach menyebut strukturalisme didirikan oleh Levis-Strauss. Bagi
Levi-Strauss, budaya pada hakikatnya adalah suatu sistem simbolik atau
konfigurasi sistem perlambangan. Lebih lanjut, untuk memahami sesuatu
perangkat lambang budaya tertentu, orang harus lebih dulu melihatnya
dalam kaitan dengan sistem keseluruhan tempat sistem perlambangan itu
menjadi bagian.
Etnografi Baru
Etnografi berupaya mereproduksi realitas budaya seturut pandangan,
penataan, dan penghayatan warga Ini berarti bahwa pemaparan tentang
sesuatu budaya tertentu harus diungkapkan sehubungan dengan kaidah
konseptual, kategori, kode, dan aturan kognitif ‘pribumi’ dan tidak
sehubungan dengan kategori konseptual yang diperoleh dari pendidikan
sang atropolog Dengan demikian, etnografi yang ideal harus mencakup
semua aturan, kaidah dan kategori yang pasti dikenal oleh warga pribumi
sendiri guna memahami dan bertindak tepat dalam berbagai situasi sosial
yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Demi menghindari bias
budaya si etnograf dapat dinetralkan, dan suatu deskripsi yang
mencerminkan realitas budaya ‘yang sesungguhnya’
Pendekatan Emik dan Pendekatan Etik Terhadap Fenomena Budaya
Maksud dan kegunaan pelaksanaan penelitianlah adalah akan menentukan
apakah suatu pembahasan etnografis akan diungkapkan dalam “kategori
warga budaya setempat” (emik), atau menurut “kategori antropolog”
(etik), atau dalam semacam kombinasi antara keduanya seperti sangat
sering terjadi.
Kategori kognitif warga-budaya setempat dirancang untuk membuat orang
dapat hidup membaur dalam budaya tersebut. Sedangkan kategori kognitif
seorang antropolog selaku antropolog dirancang untuk kegunaan lain:
tidak untuk mereproduksi “realitas kultural” melainkan untuk menjadikan
realitas itu dapat dipahami dalam suatu bingkai perbandingan,
LIMA
BEBERAPA TEMA LAMA DAN ARAH BARU
Antropologi sedang mengalami krisis yang terutama disebabkan oleh
lenyapnya dunia primitif. Dulu primitif memasok sebagian besar data yang
dibutuhkan antropolog. Krisis tersebut juga terjadi pada disiplin ilmu
lainnya.
Pandangan Tradisional
Keanekaragaman budaya memperkaya kajian antropogi. Awalnya. Antropolog
dalam penelitian tidak terlibat langsung dengan obyek kajiannya secara
langsung pada kalangan “bangsa primitive”. Padahal Satu faktor yang
telah menyumbang bagi penetapan dan pertumbuhan antropologi sebagai
suatu disiplin ilmu sosial yang dikhususkan adalah penekanan pada kerja
lapangan dan observasi-partisipasi yang mulai muncul sebagai piranti
utama pengumpulan data antropologi kira-kira pada peralihan abad ini.
Pandangan Tradisional menuai kritik dari antropolog selanjutnya yang
mempertayakan entitas yang relatif otonom dan secara fungsional
independent terutama yang menyangkut persoalan metodologis.
Kecenderungan Masa Depan
Titik Temu dengan Ilmu-ilmu Sosial lain
Dalam akulturasi dan perubahan global dalam Antropogi yang masing-masing
memiliki pola yang berbeda telah melahirkan setidaknya reksi dan corak
yang berbeda. (a), metodologi kerja lapangan dengan obsevasi-partisipasi
(b), pembatasan masalah antripologis yang bersandar pada kerja
lapangan tradisional dan (c), kelompok ini cendrung pada kegiatan
metodelogis yang baru dan canggih. Susutnya keberagaman budaya dan
otonomi unit sosial menyudutkan segala cabang ilmu sosial untuk saling
memanfaatkan wawasan, dan data cabang ilmu lain.
Relevansi dalam perkembangan ilmu sosial bukan hanya menganalisis
masalah sosial tapi diharapkan melahirkan kritik sosial atas konstruksi
realitas, dan menghasilkan satu agenda “aksi” yang jelas sebagai upaya
memenuhi tuntutan masyarakat.
0
TRENDING ARTICLES
Kepailitan Purdi E.Chandra, Momen Membuka …
Chris Suryo (paknet...| 5 jam yang lalu
Sentilan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan …
Ombrill| 9 jam yang lalu
Jokowi Gak Seidiot Itu, TrioMacan2000 Kadang …
Rahmad Agus Koto| 14 jam yang lalu
Sergio Van Dijk pun ikut Berkampanye …
Primata Euroasia| 16 jam yang lalu










10 October 2010 11:04:22
Menurut Kompasianer. apa kelebihan dan sekaligus kelemahan buku tersebut?
Laporkan Komentar
0
Balas